Sabtu, 24 Januari 2015

BUMN Masih Minta PMN Jadi Beban Negara


Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tak mengira bahwa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sudah menjadi perusahaan publik masih meminta duit ke negara melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). dividen BUMN Rp 34 triliun, PMN (total) Rp 78 triliun, ini adalah menjadi beban negara padahal BUMN sudah jadi perusahaan listed company seharusnya sudah bisa mencari suntikan dana sendiri seperti mencari dana dipasar modal.
Bahkan sebelumnya, Kementerian BUMN mengajukan penambahan anggaran PMN sebesar Rp 48 triliun dalam APBN-P 2015. Namun, pengajuan itu ditentang Komisi XI DPR RI.

Created : Fathiyah
Referensi : Kompas.com

AirAsia Tidak Bermaksud Mencicil Kompensasi Keluarga Korban



Presiden Direktur Indonesia AirAsia Sunu Widyatmoko mengatakan, pihaknya tidak bermaksud untuk mencicil kompensasi kepada keluarga korban. Menurut dia, santunan yang diberikan pada tahap awal merupakan bentuk niat baik kepada keluarga dari korban yang belum ditemukan.

Sunu menjelaskan, Untuk verifikasi korban, itu kan membutuhkan waktu yang panjang. Pada masa penantian ini kan ada keluarga dari penumpang Air Asia QZ8501 yang belum ditemukan, dan karena dampak dari insinden ini menjadi kesulitan keuangan. Sejumlah dana memang ditawarkan kepada keluarga korban sebagai bantuan, dengan opsi bisa diambil atau tidak.
AirAsia akan tunduk pada Permen Nomor 77 Tahun 2011 mengenai kompensasi sebesar Rp 1,20 miliar.

Created by : Fathiyah Syifa Hanan Muazzadah

Rabu, 21 Januari 2015

Rupiah Kembali Melemah


Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan. Pada awal perdagangan di pasar, data Bloomberg  menunjukkan, mata uang Garuda ini terpuruk pada Rp 12.718 per dollar AS, melemah 0,56 persen dibanding penutupan sebelumnya pada 12.647.

Indeks dollar AS kembali menguat ke 91,72 sejalan dengan turun tajamnya harga minyak Brent ke 51 dollar AS per barrel yang terus turun dipastikan memaksa pemerintah untuk menetapkan harga Premium yang lebih rendah lagi di Februari. Walaupun hal itu akan memicu inflasi yang lebih rendah, tekanan pelemahan Rupiah diperkirakan masih akan bertahan dengan dolar yang tetap menguat.
Rupiah masih tertekan oleh penguatan dolar di pasar global bersama mata uang lain di Asia. Akan tetapi tekanannya diperkirakan berkurang.
Kekhawatiran perlambatan global dan harapan keluarnya Yunani dari Zona Euro terus menekan harga minyak Brent yang juga pada akhirnya mendorong pelemahan rupiah. tapi terlihat tidak semua mata uang di Asia melemah terhadap dollar AS.
Sementara kurs tengah Bank Indonesia Selasa tanggal 6-01-2015 berada pada 12.658.

Created by : Fathiyah Syifa

Rabu, 14 Januari 2015

Harga BBM Tak Stabil




Naik dan turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membuat pemerintah akan menetapkan kebijakan baru mengenai tarif angkutan umum.  Tarif angkutan umum sangat sulit menyesuaikan jika ada penurunan harga. Maka seharusnya menjaga stabilitas ekonomi, diharapkan inflasi jua terjaga. Sebab, inflasi terendah Indonesia hanya berkisar 4%.


Perhitungannya adalah penentuan harga rata-rata Mean Of Plats Singapore (MOPS). Hal ini karena minyak yang dibeli di Indonesia merupakan minyak satu bulan sebelum dipasarkan. Setelah melihat rata-rata MOPS, kemudian rata-rata dolar, ditambah alpa ditambah biaya dan lain-lain. Setelah penentuan harga tersebut selesai, akan menjadi kewajiban Pertamina untuk mendistribusikannya dan menjamin kesediaan minyak di seluruh Indonesia.  Namun berapa besar penurunan harga BBM itu pada Februari belum dapat dipastikan.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengintruksikan Dinas Perhubungan dan Organisasi Angkutan Darat (Organda) untuk menurunkan tarif angkutan kota. Menurutnya saat ini Dinas Perhubungan dan Organda tengah berkomunikasi untuk mengevaluasi ulang tarif angkot. Rata-rata kenaikan tarif angkot atas dampak kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu mencapai 1.000

Nur Mahmudi menegaskan, BBM merupakan salah satu komponen yang signifikan di dalam industri transportasi. Besarannya, kata dia, paling tidak mempengaruhi minimal 30% dari operasional. Karena itu harus ada penyesuaian terhadap turunnya harga BBM. 

Kementrian Perhubungan (Kemenhub) mengeluarkan kebijakan pemberian diskon tarif pajak angkutan umum bagi angkutan umum. Hal ini dilakukan untuk mengimbangi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. ) Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Sugihardjo menjelaskan bahwa pemberian diskon 50%tarif pajak berlaku bagi angkutan umum berplat kuning, serta yang dirasa memiliki izin resmi.
Meskipun awalnya pihak Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) merasa keberatan terhadap diskon tersebut. Lantaran, dianggap dapat mengurangi pendapatannya. Kebijakan diskon 50% untuk PKB dan BBM ini sudah disosialisasikan ke Dispenda seluruh Indonesia. ini sudah menjadi komitmen pemerintah untuk membantu meringankan industri angkutan umum.

Created by : Fathiyah Syifa Hanan Muazzadah

INDUSTRI NASIONAL AEC 2015


 Tak terasa sudah tahun 2015. Berarti, tinggal tersisa kurang dari 1 tahun lagi pemberlakuan masyarakat ekonomi Asean atau Asean Economic Community (AEC) 2015. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto meragukan kesiapan Indonesia dalam menghadapi Komunitas Ekonomi Asean. Untuk menghadapi AEC, Indonesia harus berbenah karena sektor swasta masih jauh berada di luar lingkaran pengambilan keputusan oleh negara. Indonesia harus serius mempersiapkan diri menghadapi AEC akhir 2015. Apalagi, Indonesia merupakan pasar terbesar dengan potensi penduduk lebih dari 240 juta jiwa dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Pemerintah terlalu bangga dengan pertumbuhan industri yang terbilang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, biaya logistik yang terlampau mahal membuat industri nasional gugup menghadapi AEC 2015.

AEC 2015 akan menjadi sebuah tantangan dan peluang Indonesia.Kekhawatiran pemerintah adalah masih mahalnya biaya logistik yang membuat daya saing industri nasional masih kalah dibandingkan negara di kawasan Asea.
Pemerintah terus memperkuat penguasaan pasar dalam negeri yang berpotensi terganggu dalam penerapan AEC 2015 mendatang. Cabang-cabang industri itu perlu ditingkatkan daya saingnya untuk mengamankan pasar dalam negeri terhadap produk sejenis dari negara Asean lainnya.
Peningkatan daya saing melalui penurunan biaya modal, biaya energi, dan biaya logistik. Peningkatan daya saing ini harus dilakukan baik dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang. Selain itu juga adanya jaminan pasokan bahan baku, pengawasan impor untuk meredam produk ilegal, dan optimalisasi peningkatan penggunaan produk dalam negeri.

Jangka panjangnya perlu juga dilakukan peningkatan faktor pendukung industri, membangun kemampuan sumber daya manusia, dan pengembangan industri.

 Tanpa peningkatan daya saing, pasar bisa terancam oleh industri makanan dan minuman negara Asean lainnya. Saingan utama Indonesia adalah Thailand, Malaysia, dan Singapura,


Created by : Fathiyah Syifa Hanan Muazzadah